Halaman

Setiap kejadian punya kisah lain di belakangnya. Ibarat panggung pertunjukan, situasi di depan dan belakang sama riuhnya. Situasi di depan, orang banyak yang tahu. Lalu bagaimana kisah di bagian belakangnya?

Di tempat inilah cerita (di belakang panggung) bergulir.......

Senin, 11 Agustus 2014

AWAS!! Siapa Tahu Kamu Terjangkit Virus ISIS-Phobia




Menurut saya, menolak ISIS itu wajib, karena mereka menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Kalau kamu penggemar Naruto, kamu bisa mengandaikan ISIS dengan Madara Uchiha.

Madara Uchiha punya niat mulia membangun "dunia tanpa kekerasan" tapi dengan cara salah dan sistem yang salah. Mugen Tsukuyomi yang dicita-citakannya (harus) dibangun dengan menghancurkan keselamatan semua orang.

Kenapa saya ibaratkan dengan Madara Uchiha? Biar gampang aja. Tokh, Madara nggak punya akun media sosial, jadi saya nggak takut dituduh mem-bully hi hi.....

Nah, sepak terjang ISIS ini menimbulkan penolakan khalayak ramai. Tapi rupanya penolakan ini juga menimbulkan gejala ISIS-phobia.

ISIS-Phobia yang saya maksud adalah ketakutan/kecurigaan berlebih terhadap sesuatu yang (mungkin) berbau ISIS. Saya melihat sendiri gejalanya di kalangan teman-teman saya di media sosial. Saya jadi takut suatu saat orang jadi mudah melabeli orang lain sebagai ISIS,  seperti tempo dulu orang mudah melabeli lainnya dengan embel-embel "tafir", "wahyudi", "rhemason" "balpirik", dst.

Sebelum hati kita kadung terjangkiti phobia ini, ada baiknya perhatikan tips-tips di bawah ini:

1. Dont' Judge Book by Its Cover (1)
Jangan hakimi manusia lain dari penampilannya. Contoh, kalau selama ini teroris ISIS itu berjanggut dan berjilbab lebar, maka belum tentu SEMUA yang berjanggut dan berjilbab lebar itu ISIS. Begitu juga sebaliknya. Nggak semua orang bertato dan nggak berjilbab itu hedonisme semua.

2. Dont' Judge Book by Its Cover (2)
Masih soal atribut. Jangan hakimi (keimanan) orang dari atribut kalimat syahadat yang ditampilinnya. Bendera ISIS sudah pasti mencantumkan kalimat syahadat. Orang yang kebetulan benci ISIS bisa saja mengidentikkan kalimat syahadat itu dengan ISIS. Padahal ISIS aja yang songong, tapi orang yang  pengin beragama bener dan lurus yang kena getahnya. Ironisnya, atribut agama dimana pun ternyata sebenarnya gampang banget dimanfaatkan orang yang haus kekuasaan. Nggak cuma Islam, agama lain pun begitu. Pertanyaannya, kenapa mereka sengaja memakai atribut agama? Tentu saja untuk meraih simpatimu! Apalagi kalau rasa ingin membela agamamu tinggi, tapi pengetahuan agamamu  jongkok, kamu akan dengan mudah ikut bergabung cuma dengan iming-iming "jaminan surga di akhirat nanti". Padahal surga itu punya siapa, yang berani janjiin surganya siapa. Kan mendingan percaya sama janji pemilik surga sesungguhnya tho?

3. Buang Stigma "Friend or Foe"
Stigma di atas populer waktu zaman perang dingin. "Kalau lu nggak jadi temen gue, berarti lu musuh gue." Stigma ini juga masih nge-hit di zaman sekarang, dan ironisnya muncul tiap hari saat Pilpres 2014 kemarin. Orang dengan mudahnya menganggap orang lain musuh cuma gara-gara pilihannya beda. So, stop it right now! Kalau kamu nggak berhenti sekarang juga, bisa-bisa kamu terlalu menghayati peranmu, lalu ia akan menjadi kepribadian kamu yang baru, selama-lamanya!

4. Jangan Asal Nge-Share Berita
Satu kebiasaan yang sedang ngetren--sejak Pilpres 2014 kemarin-- adalah kebiasaan nge-share berita. Mungkin kitanya yang terlalu "berdedikasi". Mungkin kita terbawa perasaan ingin membela "kebenaran". Mungkin kitanya juga terlalu percaya pada orang yang ingin kita share beritanya. Padahal setiap orang punya kelemahan/kekurangannya masing-masing. Dia belum tentu maha-serba-tahu apa yang terjadi di luar sana. Siapa tau dia pun dapat berita cuma "katanya" dan "katanya". Dan siapa tahu "katanya-katanya" itu bermuatan opini/terjemahan/curhatan pribadi yang bisa merusak kevalidan berita.

Ini contoh berita valid yang disampaikan berantai, akhirnya rusak gara-gara opini/terjemahan/curhatan pribadi yang salah :

Adegan I
Budi : Eh, katanya si Ani sakit ya? Sakit apa?
Umar : Iya, sakit liver.

Adegan II ;
Deny: Bud, katanya Ani sakit ya? Sakit apa?
Budi : Iya, sakit liver.
Deny: Liver itu apa sih?
Budi : hati.

Adegan III :
Maman : Den, denger-denger Ani sakit ya?
Deny: Iya, man. Sakit hati.
Maman : Apa?? Sakit hati?!

Adegan IV :
Maman (nulis di facebook) : "Ani ternyata sakit hati. Hayoo gara-gara siapa?"
Jarwo : Wah, berita bagus tuh. Aku share ya.
 tonto : Aku juga share .

Adegan V, VI, VII, dst :
Semua teman-teman Ani yang baca berita berantai itu yakin Ani dirawat di rumah sakit gara-gara diputusin cintanya oleh seseorang....

Kesimpulan, jangan asal nge-share berita. Kita harus jeli benar sebelum nge-share. Syukur-syukur kamu bisa melacak infonya sampai ke pemberi info pertama, atau yang mengalaminya langsung (narasumber primer). Ini yang juga dilakukan oleh para pengumpul hadis yang melacak sanad perawi-nya. Jika semua perawi terbukti orang-orang jujur, hadis dikatakan shohih. Tapi jika ada satu saja perawi yang ahli bullshit, hadis langsung jadi maudu/palsu.

Tapi kalau kamu punya akses terbatas untuk melacak "sanad" ini, baiknya kamu kaji benar teks yang kamu mau share. Baca berita itu hakikatnya sama seperti baca novel. Kalau logika certanya nggak nyambung, jangan gitu aja percaya. Contoh, berita "ISIS dikabarkan didirikan oleh Israel, Iran, Suriah, dan AS."  Mungkin nggak itu terjadi? Mungkin saja, kan kita nggak tahu apa yang terjadi di luaran. Tapi aneh ga menurut logika cerita? Aneh! Kenapa? Karena Israel dan AS itu musuhan sama Iran dan Suriah. Kok bisa akur banget diriin ISIS? Gimana ceritanya itu bisa akur? Kok nggak bikin acara halal bihalal aja gitu yang lebih gampang? Dari sini aja logika cerita nggak nyambung. Ada missing link. Taruhlah, faktanya ISIS memang didirikan keempat negara itu. Tapi untuk sementara, baiknya kamu menyimpulkan berita ini tidak valid. Bisa kebayang nggak kalau kamu nge-share berita nggak valid jatohnya gimana dalam agama? Jatohnya akan menjadi suudzon, bahkan fitnah! Nauzubillah...

Jadi, sekali lagi, jangan asal nge-share berita, KECUALI tulisan saya ini *ting

5. Jangan Silau oleh Kata "Demi Membela Kebenaran"
Ingat, kebenaran hari ini bukan kebenaran esok hari. Kebenaran esok hari bukan kebenaran esok lusa. Kebenaran itu bukan kenyataan! Dulu manusia percaya bumi datar, itu benar. Sekarang manusia percaya bumi bulat, itu juga benar. Besok siapa tahu bumi ternyata kotak! Timeline-nya beda, kan? Jadi jangan terlalu yakin dengan ucapan orang yang mengajak kamu berjihad demi membela kebenaran. Kebenarannya milik siapa dulu?! Lha, Pemilu lalu aja pendukung No 1 yakin sedang membela kebenaran dan pendukung no 2 juga percaya sedang bela kebenaran, kan?

6. Kembalikan semuanya pada Ajaran Agama
Sudah pasti cuma Tuhan yang memiliki kebenaran hakiki. Kebenaran yang nggak berdasarkan versi siapa-siapa. Jadi cara paling baik agar tidak terjebak ISIS adalah kembali pada dogma agama kita. Berhubung agama saya islam, saya cuma menampilkan poin-poin penting Islami yang bisa kita jadikan filter "kebenaran" kita :
a. Islam itu agama damai. Islam mengutamakan jalur perdamaian daripada jalur kekerasan.
=> jadi kalau ada yang pakai kekerasan (meskipun ngaku Islam), abaikan!
b. Islam itu menerima perbedaan
=> jadi kalau ada yang maksa Islam itu harus seragam pikirannya, pakaiannya, pandangan politiknya, abaikan! Islam cuma peduli kita seragam dalam urusan ibadah mahdhoh.
c. Islam menyadari sepenuhnya kalau hidayah itu hak prerogatif Allah.
=> jadi kalau ada yang keukeuh mem-bully orang yang lepas jilbab, misalnya, dan menganggapnya "tafir", maka ia sedang ingin memainkan hak yang cuma dimiliki Tuhan.
d. Islam bilang sebagian dari sangkaan itu dari setan
=> jadi kalau ada orang yang begitu mudahnya bilang orang ini begini orang itu begitu tanpa aturan yang jelas, kamu tahu dia siapa.........?
e. Islam itu menitahkan kita berkata yang baik-baik saja.
=> kalau nggak bisa, mendingan diam!
f. Islam itu melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangannya
=> kamu sah dibilang Islam kalau menjalankan shalat, dst, dan tidak mengonsumsi miras, dst. Tapi Allah lho, yang mensyahkan, bukan manusia.
g. Islam itu mengikuti ajaran Nabi SAW
=> Dan Nabi nggak pernah menyuruhmu membunuh orang yang tidak mengikuti arah politikmu.
f. Islam menitahkan kita untuk melihat apa yang dibicarakan orang, bukan siapa yang berbicara
=> ini diucapkan Ali bin Abi Thalib. Mungkin keponakan Nabi SAW ini udah tau suatu saat umat Rasulullah akan lebih mengultuskan pimpinan politik/kelompoknya, sehingga mudah percaya saja apa kata pemimpin mereka sekalipun salah, dan mudah memandang salah orang dari luar kelompok mereka sekalipun benar. padahal Islam mengabarkan pada kita bahwa cuma Rasulullah-lah manusia yang terjaga dari salah dan dosa.

Jadi, Pembaca. Jika suatu saat engkau ikut pengajian dan ternyata pengajian itu mengajarkanmu alan kekerasan (sekalipun berdalih jihad), jangan gampang menuduhnya ISIS. Tapi jangan juga memercayainya. Sebab sebaik-baiknya umat adalah ketika kamu menjaga diri kamu dan keluargamu dari api neraka (baca: ajaran yang sesat), tapi tidak mudah menghakimi orang lain yang berbeda denganmu di  media sosial.

Baiknya lapor saja pada RT/RW atau kepolisian, agar diklarifikasi langsung secara legal. Daripada bikin heboh media sosial doang, hayoooo?

Terakhir, mari kita sekali lagi sama-sama teriak:

Senin, 21 Juli 2014

Slurpee Halal?

Terus terang saya paling demen minum Slurpee-nya Seven Eleven. Efek brain freezing-nya itu lho bikin ketagihan. Tiap ke Gambir, kusempet-sempetin beli di kompleks stasiun.

Tapi sering terpikir ini minuman halal nggak sih? Apalagi nggak sebiji pun logo halal tersemat. Beda dengan Pepsi atau Coca Cola, misalnya, yang sama-sama minuman dari Barat  tapi udah disertifikasi MUI.

Penasaran, kutanya petugas kasirnya.

"Mas, makanan-minuman asli sini halal nggak sih? Hot dog atau katsu ini, misalnya."

Jumat, 04 Juli 2014

CATAT : Ramadhan ini, Kamu JANGAN Sedekah!


Ini pendapat saya pribadi, jangan dipolitisir.

Saya pernah kerja  ngurus zakat, infaq, sedekah di Jakarta dulu. Selama 2 tahun kerja, saya nemu banyak "keganjilan" dalam proses ini.

Logikanya, ini pekerjaan mudah. Tinggal kumpulkan dana dari donatur, lalu cari saja orang miskin, lalu kumpulkan, lalu santuni, lalu beres lah. Di mana kita mendapatkan orang miskin? Ah, gampang! Comot di jalanan Jakarta juga pasti banyak!

Tapi kenyataan nggak segampang itu. Ini pertanggungjawabannya besar kalau nggak diatur profesional. 'Tul nggak? Mesti diteliti betul-betul latar belakang penerimanya.

Kamis, 26 Juni 2014

Capres Paling Dizolimi DIJAMIN Jadi Presiden 2014. Dia adalah...

Yang bikin meme/sotoshop, makasih ya ^_^
Saya pernah bercanda sama teman, kalau kandidat presiden yang dizolimi pasti yang bakal menang ajang copras capres 2014. Saya sebenarnya nggak bercanda. Sudah ada contoh sejarahnya.

Senin, 23 Juni 2014

Orang Jakarta Aja Stres di (Jalanan) Daerah

Kalau denger cerita temen di daerah yang berkunjung ke Jakarta, pasti isinya keluhan melulu. Apa lagi, coba, kalau bukan soal macet? Kalau dari tol Cikampek, misalnya, baru masuk  Cikarang Utama aja udah macet. Dari tol Ciawi, mobil udah "ngetem" sejak Cibinong.

Jumat, 20 Juni 2014

Jokowi & Prabowo Tertangkap Kamera Makan Nasi Jamblang Bareng

Ada pemandangan heboh di Cirebon. Dua calon presiden RI yang di TV/internet berseteru memperebutkan kursi RI-1 kepergok makan nasi jamblang bersama. Mereka kelihatan mesra mengobrol tentang  jagoan mereka di Piala Dunia atau lauk jamblang mana yang mereka suka. Tidak kelihatan suasana permusuhan  seperti para pendukungnya di media massa. Mungkin karena suasana warung nasi jamblang Ibu Nur di belakang Lapas Kesambi ini sedang sepi kali ya.


Saya kebetulan ada di sana. Awalnya saya tidak percaya mereka memang calon presiden kita. Kan bisa sja Jokowi dan Prabowo KW 2 yang sedang cari sensasi. Tapi  Fadli Zon dan Muhaimin juga ada di situ. Masak iya makhluk KW bisa malsuin 4 orang sekaligus, tho?

Penasaran, saya hampiri mereka. Saya kira bakal diusir, ternyata malah disambut. Saya sapa kok tumben tampil berdua, mereka malah senyum-senyum saja.Terus saya tanya ada gerangan apakah datang ke Cirebon bareng-bareng tanpa terendus wartawan. Awalnya mereka tidak jawab, tapi untung saya bilang saya bukan wartawan, akhirnya mereka cerita juga.

Ternyata mereka baru sowan ke Kyai Fuad Hasyim, pimpinan Pondok Pesantren Buntet di Kanoman. Mereka baru minta wejangan tentang pilpres. Tapi saya tidak begitu saja percaya, mengingat Kyai Fuad terkenal pintar meramal masa depan. Mereka pasti kebelet pengen tahu nasib mereka setelah Pemilu. Tapi lagi-lagi mereka cuma senyum.

Pada saat itu saya baru sadar Kyai Fuad juga ada di sana.  Kesempatan bagus nih, saya konfirmasi langsung saja  apakah dua capres itu datang buat  tanya masa  depan mereka, alias cari tahu siapa yang menang.



"Anak ini pendukung siapa? Satu atau dua?" tanya Pak Kyai.
"Saya swing voter, Pak Kyai. Belum mutusin milih siapa."
Kyai manggut-manggut.
"Sebaiknya sampeyan jangan memilih sajalah."
Bukan cuma saya yang kaget. Tim sukses kedua pihak ternyata juga kaget.
"Memangnya kenapa, Pak Kyai?"
"Selain meramal, saya juga bisa baca hati orang tho? Saya lihat mereka punya hidden agenda. Yang satu punya hubungan dengan Levenija (negara bekas Uni Soviet--red). Sudah jelas-jelas Levenija punya misi pemurtadan masal. Yang satu lagi pengin menghabisi siapa saja yang menyinggung hatinya. Caranya aku nggak tahu lah, tapi dia pasti punya kemampuan bikin 'kecelakaan wajar'."
"Tafsiran Pak Kyai salah, barangkali?" ujar saya harap-harap cemas.
"Tanya saja pada mereka langsung."
Kepala saya langsung memutar menghadap keduanya. Saya tidak mendapatkan jawaban lisan mereka. Tapi saya mendapatkan senyuman bangga mereka pada apa yang disebutkan oleh Pak Kyai.
Astaghfirullah.....


Sekarang, saya mau tanya pada pembaca. Tolong dijawab ya, sambil menulis jawabannya di notes masing-masing biar ingat.
1. Apakah saat membaca kamu sadar tidak ada foto Jokowi dan Prabowo sedang makan nasi jamblang bersama?
2. Apakah kamu mengkroscek* warung jamblang Ibu Nur betulan ada di belakang Lapas Kesambi?
3. Apakah kamu mengkroscek* Pondok Buntet Pesantren beneran ada di Kanoman, dan sekarang sedang dipimpin oleh Kyai Fuad Hasyim?
4. Apakah kamu mengecek* bahwa Kyai Fuad memang punya keistimewaan meramal masa depan dan membaca pikiran? Bahkan, apakah kamu mengkroscek* (alm.) Kyai Fuad masih hidup atau sudah pupus?
5. Apakah kamu memastikan* bahwa di situs lain juga memuat berita ini sebagai penguatmu bahwa Jokowi, Prabowo, Fadli Zon, dan Muhaimin memang sedang berkumpul bersama?
6. Apakah kamu memastikan* ada negara pecahan Uni Soviet bernama Levenija?
7. Apakah kamu memerhatikan tulisan ini tidak punya titi mangsa valid yang menunjukkan  kapan kisah ini terjadi?
dan paling penting....
8. Apakah kamu pecaya isi keseluruhan berita ini sebelum kamu baca 8 pertanyaan ini?

(*) lewat internet/jaringan teman

Saya tekankan di sini, kisah di atas 100% REKAYASA saya sendiri. Kenapa saya berbuat ini? Untuk menguji etiket kita semua berinternet. 

Jawaban yang benar untuk nomor 1-7 adalah YA, untuk no 8 adalah TIDAK.
Kalau jawaban kamu benar semua, saya ucapkan selamat. Berarti kamu tipe yang tidak mudah percaya berita yang kamu baca. Kamu bahkan berusaha mengeceknya ke berbagai macam sumber.
Kalau jawabanmu sebagian benar, kamu masih ada keinginan mengecek kebenarannya, tapi kamu malas mengecek keseluruhannya.
Kalau jawabanmu salah semua..... Mohon maaf, Kawan, sampeyan ternyata mudah sekali percaya berita apa pun yang sampeyan baca. Bisa bahaya kalau sampeyan juga tergolong orang yang mudah nge-share berita yang menurut kalian hebat. Salah-salah, sampeyan dimanfaatkan orang untuk menyebar fitnah.

Ada dua berita yang cenderung dilahap bulat-bulat oleh orang.
1. Yang berkaitan dengan kekagumannya.
2. Yang berkaitan dengan naluri bertahan hidupnya.

1. Berita apa pun tentang idola kita sudah pasti kita terima bulat-bulat. Berita bagusnya sudah pasti, berita jeleknya tidak. Sekalipun berita jelek itu berisi kebenaran, kita akan menolaknya mentah-mentah--tapi tidak mengkrosceknya.
2. Berita tentang naluri bertahan hidup itu tentang apa ya? Itu berita tentang sesuatu yang merongrong rasa nyamanmu. Misal, kamu dengar berita di kompleks rumahmu terjadi banjir bandang. Kamu langsung percaya, kamu panik, pengen cepat pulang ke rumah, padahal kamu sudah tahu di kompleksmu tidak ada sungai.
Contoh kedua, berita tentang anakmu kecelakaan. kamu langsung panik, dan mau transfer berapa duit pun pada penelepon gelap yang pura-pura dokter yang minta biaya operasi darurat--padahal anakmu asyik-asyik aja belajar di sekolahnya.
Contoh ketiga, berita tentang anti-Islam atau anti-anti agama lainnya yang bisa merongrong keimananmu. Dengan alasan membela agama, kamu bisa gelap mata oleh berita bohong dari orang-orang yang kamu kira menjaga akhlaknya seperti dirimu.
Contoh keempat, berita tentang orang yang mungkin akan merongrong kebebasanmu. Kebebasan untuk berpikir, berfacebook ria, ber-blog ria, yang mungkin akan membawamu penjara, bahkan pada tiang gantungan, padahal belum tentu itu terjadi.

Naluri, bukan datang dari logika. Tapi sekalinya memengaruhi logika, pengaruhnya nggak ilang-ilang. Yah.... namanya juga manusia.......

Yang Percaya CAMPOLAY itu Nama Sirup, Pikir Lagi!


Jelang Bulan Puasa gini nggak apdol kalau nggak bahas sirup. Salah satu sirup yang terkenal adalah Campolay, atau Tjampolay. Sirup ini asli daerah Cirebon dan pamornya sudah kesohor banget sejak  tahun 1930-an.

Lucunya, resep sirup ini konon lahir  lewat mimpi penciptanya, Tan Tjek Tjiu tanggal 11 Juli 1936.