Halaman

Setiap kejadian punya kisah lain di belakangnya. Ibarat panggung pertunjukan, situasi di depan dan belakang sama riuhnya. Situasi di depan, orang banyak yang tahu. Lalu bagaimana kisah di bagian belakangnya?

Di tempat inilah cerita (di belakang panggung) bergulir.......

Selasa, 07 Oktober 2014

6 Animasi Lokal Mulai Unjuk Gigi

Belakangan ini makin banyak animasi made in Indonesia seliweran di layar kaca. Wah, bagus tuh! Tandanya animasi lokal sudah diakui daya jual-nya (ya iyalah... memangnya apa lagi pertimbangan utama stasiun TV he he).

Memang, gambarnya nggak semua menggembirakan. Tapi sebagai penggemar animasi, saya sangat gembira menyambutnya. Makanya saya berbaik hati bagi-bagi info tentang mereka. *Jangan lupa nonton ya. Siapa lagi kalau bukan kita yang menyukseskannya?

1. KELUARGA SOMAT
Diproduksi oleh Dreamtoon, ditayangkan Indosiar di program Sinema Anak Pagi. Ceritanya seputar keseharian Pak Somat si pegawai pabrik, istrinya Inah si IRT yang buka warung, anaknya Ninung yang centil, dan anaknya Dudung yang badung. Belum ditambah tetangga-tetangganya yang heboh atau tulalit. Itu bumbu komedi yang asik dalam cerita.

PLUS : Ceritanya menyangkut keseharian penduduk Indonesia; karakter per orang sederhana dan gampang diingat.

MINUS : Komedinya kadang terasa maksa; Gerakan animasi kurang halus, mala sering muncul perulangan adegan.

2. SI ENTONG

Si Entong diproduksi inhouse-nya MNC, yakni MNC Animation. Tayang di MNCTV setiap Rabu sore. Si Entong sudah pernah dibikin sinetron manusianya, jadi (sebagian) pemirsa sudah kenal nama dan cerita dasarnya.

Dilihat dari kompleksitas tokoh (animasi), saya sih optimis Si Entong bisa menyaingi Upin Ipin, asaaaaallll...... kita siap menyukseskan produk dalam negeri kita ini.

PLUS : Diangkat dari "merek dagang" yang sudah kesohor, publik sudah akrab dengannya; Cerita tidak dangkal (ini masalah klise animasi lokal--karena seorang animator handal belum tentu penulis cerita yang handal), karena sudah ada fondasi kokoh dari sinetronnya.

MINUS : Kekuatan karakter di sinetronnya sedikit terkurangi. Contohnya karakter (wajah) si Entong. Kalau di sinetron terkesan cerdik, baik, dan agak nakal, tapi di animasi terkesan baik (saja);

3. ADIT dan SOPO JARWO

Salah satu animasi yang dapat pujian KPI. Diproduksi MD Animation untuk MNCTV, tayang sore hari Senin-Jumat. Bercerita tentang Adit cs yang menjalani kesehariannya penuh petualangan. Sayangnya ada preman suka rese merecoki mereka. Namanya Sopo Jarwo. "Perseteruan" kedua kubu beda generasi inilah yang jadi kekuatan cerita.

PLUS : Artwork-nya bagus; Gerakannya lembut; Ceritanya variatif; Dan ada cameo Deddy Mizwar dalam sosok tokoh Haji Udin.

MINUS : Somehow, perseteruan antara Adit cs yang masih bocah dengan Sopo Jarwo yang sudah "uzur" rasa-rasanya kurang masuk di otakku. Terutama Sopo Jarwo-nya. Iseng banget sih ngerjain anak kecil mulu? he he.....

4. KIKO
Satu lagi karya MNC Animation. Konsepnya agak "melanggar" mainstream animasi lokal yang mengangkat nuansa khas Indonesia. Konsepnya mengambil gaya Finding Nemo ataupun Spongebob, yakni "dunia bawah air". Bercerita tentang para penghuni danau yang berubah jadi "mutan" gara-gara danau tercemar. Mereka tidak lagi berujud ikan, tapi sosok-sosok "kartun" yang imut dan lucu, yang menjalani kehidupannya juga penuh daya imut dan lucu. KIKO tayang di RCTI setiap Sabtu pagi.

PLUS : Dubbing KIKO sangat natural, terutama dubbing karakter Lola yang cerewet.

MINUS : Konsep ceritanya sama seperti Si Entong dan Adit & Sopo Jarwo : ada musuh bebuyutannya. Somehow, aku kurang antusias dengan animasi seperti ini. Kesannya permusuhan itu "mesti" dijaga, meskipun  dari situ bisa diajarkan tentang pentingnya kebaikan.

5. PETOK, SI AYAM KAMPUNG

Ini nih animasi yang aku salut. Animatornya berani menggunakan teknik stopmotion. Stopmotion adalah teknik animasi berupa foto-foto yang digabungin membentuk gambar hidup. Obyek foto biasanya terbuat dari lilin/malam. Kita bisa melihatnya di serial Shaun The Sheep atau Wallace  & Gromit. Tapi jangan dibandingin sama kemapanan kedua animasi itu lho. Kita harus menghargai keberanian Dreamtoon membuat konsep berbeda. Kekurangan di sana-sini sangatlah wajar.

Petok si Ayam Kampung tayang di Indosiar di program Sinema Anak Pagi

PLUS : Ini serial TV stopmotion pertama dari Indonesia; Imej tokohnya imut-imut, cocok dijadiin merchandise buat nambah dana pengembangan stopmotion di Indonesia :)

MINUS : Plotnya kurang kuat. Cerita terkesan (terlalu) mengalir begitu saja. Kita malah lupa si Petok sedang dalam misi apa.

6. KUKUROCKYOU

Wah, Si Petok punya saingan nih. Namanya Jagur, sesama ayam jago, tapi terobsesi jadi rocker. Kukurockyou dibikin dengan teknik 3D oleh Digital Global Maxinema, ditayangkan Indosiar jam 9 pagi. Sejauh pengamatanku, animasi ini sangat menjanjikan.

PLUS : Gambarnya bagus, dubbingnya asik, musik latarnya sedap, dan kabarnya dikontrak oleh Nickelodeon untuk pasar Internasional. Waow!!!

MINUS : Komposisi warnanya menurutku terlalu menonjok mata. Tapi... sudahlah... tiap animator kan punya gaya....ngapain dibikin pusing? :p

Ini daftarku. Barangkali pembaca tahu animasi lainnya, monggo dibagi :)

Senin, 06 Oktober 2014

Bapak Ini Ngamuk Anaknya Kalah Kontes


Pagi-pagi datang ke kantor, tiba-tiba terdengar suara orang ngamuk, dikerumuni beberapa teman kantor. Mengira ada gelut, mendekatlah aku.

"Curang itu!"

"Anakku dipermainkan! Masak nilainya bagus, tapi dieliminasi!"

Ealah... ternyata seorang teman kantor dari seksi/bagian lain sedang mengungkapkan rasa kesalnya.

Aku jadi ingat, beberapa hari lalu temanku yang usianya jauh di atasku itu (makanya kupanggil "Bapak") keliling kantor membagikan pamflet pemberitahuan.

"Mohon dukungannya ya. Anakku mau tampil di ******* (nyebutin salah satu kontes nyanyi di tivi). Mohon  nonton, dan kalau bisa SMS, biar menang. Nomornya ada di kertas itu."

Aku melirik ke pamflet fotocopy-an itu. Di sana tertera nama anaknya dan nomor tujuan SMS-nya.

"Kapan penampilannya, Pak?"

"Insya Allah malam Kamis."

Tapi di malam Kamis, si anak tidak tampil. Sang Bapak pun memberitahukan ulang bahwa anaknya di-reschedule tampil malam Senin.

Dan ternyata... jadwal si anak di-reschedule lagi, jadi malam Minggu. Inilah (salah satu) poin yang diributkan.

"Ini jelas curang! Pihak TV-nya pasti nggak mau anak saya menang! Mereka ubah jadwal terus! Mereka baru kasih tau anakku tampil pas Minggu dini hari-nya! Pas acara eliminasi malam Sabtu-nya udahan!" kata Bapak.

"Anakku mana sempat latihan ?! Kepaksalah dia latihan saat itu juga, cuma sekali-kalinya! Makanya  nyanyi dia jelek, gara-gara stasiun TV-nya juga!"

"Ini jelas ada permainan. Wong presenternya aja bilang poling SMS anakku tertinggi kedua. Kenapa dieliminasi??"

Amukan terhenti sampai segitu. Sang Bapak mesti kembali ke ruangannya. Tapi.... memang sudah takdir bangsa Indonesia..... acara dilanjutkan sesi NGERUMPI.

"Si Bapak kayaknya nggak paham aturan kontes itu," ujar teman A. "Dia kira yang SMS-nya tinggi pasti menang."

"Tinggi apaan?" kata teman B." Saya juga nonton. Poling SMS-nya nggak tinggi kok."

"Lha, kok Bapak bilang polingnya tertinggi kedua?" kataku,yang nggak nonton.

"Bukan tertinggi kedua. Tapi setingkat lebih tinggi dari peserta yang poling SMS-nya paling buncit."

"Lho? Itu juga kan bukan alasan dieliminasi. Harusnya yang paling buncit itu dong dieliminasi."

"Aturannya agak beda. Ini ada voting juri juga yang berpengaruh pada hasil. Juri milih yang paling buncit buat di-'selamatkan', karena penampilan anak si Bapak kurang greget."

"Berarti bener dong, jurinya curang?" kataku lagi.

"Bener apaan? Kalau aku jadi jurinya, aku juga ga akan lolosin anak si Bapak. Suara nya pas-pasan gitu."

Ugh, kedengaran kejam nih.

"Intinya begini, Mas," kata teman A. "Aku juga pernah dukung kerabatku di kontes kayak gitu. Aku malah nonton langsung di studio-nya. Jadi aku paham segimana dinamisnya kontes kayak gini."

"Nah, Bapak nggak paham. Dia cuma SMS 1 x, tetangganya 1 x, keluarga besarnya juga 1 x. Mana bisa menang kalau orang lain jor-joran kirim SMS berkali-kali.  Malahan peserta lain jadiin ini semacam komoditas. Ada tim suksesnya, dan ada pernak-pernik yang dijual ke penonton/pendukung. Nanti, hasil jualan pernak-pernik itu dibeliin pulsa buat poling SMS."

"Si Bapak juga nggak paham kalau kepentingan TV itu CUMA acaranya rame. Mereka nggak peduli siapa yang tereliminasi. Mereka nggak punya kepentingan juga buat mencurangi peserta biar nggak lolos. Makanya mereka ubah-ubah jadwal juga demi liat dinamika acara. Malahan itu salah anaknya si Bapak dong. Masak nggak siap-siap? Memangnya dia nggak latihan sendiri dulu,  minimal buat siapin mental barangkali ada tuntutan tampil mendadak."

Well, penjelasannya masuk akal sih. Apa pun itu, aku merasa bersimpati pada si Bapak. Aku tahu perasaanmu, Pak. Aku tahu bagaimana sakitnya kekecewaan. Aku tahu sakitnya kekalahan. Aku juga kan sering ikut kontes juga, tapi kontes nulis.

Asiknya kontes nulis itu, kalau kalah nggak merasa "dipermalukan" secara live. Tekanannya agak kecil--apalagi kalau pake nama pena.

Tapi kontes tivi itu tekanannya huebbbat benarrr! Rasanya gimanaaaa.... gitu merasa kalah di depan umum, apalagi setelah woro-woro ke teman-teman dekat. Padahal secara akal sehat, kita seharusnya bersyukur. Untuk sampai ke tahap eliminasi pun tak semua orang bisa. Itu jadi prestasi tersendiri buatku.

Aku jadi paham kenapa tahun ini banyak sekali pesohor yang sulit sekali menerima kekalahannya. Alih-alih menerima, mereka lebih suka mencurigai panitiannya berbuat curang.

Akh, sudahlah. Tokh aku juga nggak lebih baik dari mereka. Aku juga nggak lebih baik dari Bapak. Kalau aku di posisi mereka, aku juga pasti ngamuk seperti mereka.

Dan satu hal yang tidak/belum pernah dipelajari oleh bangsa Indonesia adalah CARA MENYIKAPI KEKALAHAN DENGAN BAIK DAN BENAR.

Senin, 22 September 2014

Saya Ditampar MIMPI

Saya (masih) percaya mimpi tertentu punya makna. Datangnya sudah pasti dari Allah, muatannya bisa berupa petunjuk atau teguran.

Beberapa malam lau, saya tertampar mimpi semacam itu.
Kenapa dibilang tamparan, karena mimpinya agak nyeremin tapi berasa "penting"
Ceritanya....

Saya dan beberapa kerabat lagi jalan-jalan. Kami papasan dengan sekelompok orang di jalan, sebut saja Kelompok G, karena (sebagian) mereka bawa golok. Berasa ketemu geng motor dah! Dua di antaranya lalu nyembelih anjing. Darah anjing pun berceceran ke mana-mana, termasuk ke kaki saya, membuat saya kesal.

Saya memisahkan diri dari kerabat, mencari air buat bersihkan darah. Ketika kembali, orang-orang Kelompok G (kecuali penyembelih anjing) sedang memanah jidat kerabat saya. Ada yang langsung rabah, ada yang melawan. Seorang dari Kelompok G lalu memnah jidat saya. BAM! Kena, tapi saya ga rebah.

Saya balik memanah jidatnya.
Tumbanglh dia. Lalu saya panah teman "komplotan"-nya.
Bet bet bet.... Tumbanglah semua!!

Harusnya saya menang, karena saya jadi "the last stand". Tapi (di mimpi itu) saya menyadari saya kalah. Saya bukan lagi saya. Saya sudah berubah jadi seperti Kelompk G, para pemanah jidat itu.
ilustrasi aja. Ga ngomongin filmnya

Apa TAFSIR-nya?

Ada 3 clue di sini :
1. Anjing; Anjing (di mimpi ini) simbol sesuatu/seseorang yang dianggap hina.
2. Jidat: Jidat adalah simbol gagasan.
3. Panah; Panah itu simbol penguasaan.

Nah, mimpi itu mengabarkan pada saya tentang fenomena di luar sana bahwa ada sebagian (kecil) manusia yang menghinakan manusia lainnya secara ekstrem. Sementara ada sebagian (besar) yang tidak sampai menghinakan secara ekstrem, tapi karena gagasannya beda, jadi berseberangan.

Lalu muncullah perang gagasan.

Saya (dalam mimpi it) tidak ikut perang. Tapi cukup terganggu oleh ekses dari sebagian (kecil) manusia yang menghinakan manusia lainnya secara ekstrem. Saya memilih menyingkir, tidak mau ikut-ikutan edan. Tapi saat tahu orang-orang terdekat saya terlibat perang gagasan dengan pihak lainnya (yang tidak terlalu ekstrem), tak ayal saya terlibat.

Masing-masing pihak saling mengalahkan. Ingin menunjukkan gagasannyalah yang unggul (baca : paling benar).
Tapi pada akhirnya SEMUA harus menyadari tak ada satu pun yang benar-benar MENANG...
termasuk saya....

Mengapa Saya Sebut "Tamparan"?

Untuk menjawab, mari kita sinkronkan mimpi dengan realita.

Masih ingat fenomena copras capres 2014, sodara-sodara? Yup, itu adalah pilpres paling unik sepanjang sejarah Indonesia. Ini pilpres paring bingar. Paling banyak menimbulkan pertikaian, perpecahan, perdebatan, hinaan, celaan, hasutan....

Saya sebenarnya tergolong alergi dengan perdebatan politik. Soalnya menurut saya, ini seperti berdebat tentang berpasang-pasang baju butut yang kita ira bagus semua. r Jatuhnya percuma! Makanya fokus saya dalam politik, cukup tunaikan kewajiban mencoblos (untuk milih baju "yang butut" daripada "sangat butut" [Baca : sampai kapan pun nggak mungkin ada yang bagus murni]).

Tapi terima kasih pada media sosial....
Saya jadi ikut perang gagasan ini sampai sekarang, manakala pilpres 2014 sudah dadah babay  ke kantong masa lalu.
Manakala banyak orang yang masih mempertentangkannya.
Manakala banyak orang yang masih ingin berkacau-kacau ria dalam peperangan yang kacau!

Termasuk saya juga dong!
Saya terpanggil untuk meluruskan yang kacau itu.
Saya merasa perlu mendebat sebagaimana cara mereka mendebat.
Saya merasa perlu menunjukkan betapa gagasan mereka konyol sebagaimana mereka tunjukkan gagasan saya konyol.
Ini sudah jelas, kan?
Menurut kubu lawan, gagasan kitalah yang kacau.
Gagasan kita yang sesat, mungkin juga sepilis, wahyudi, rhemason, tafir,dll.
Tapi menurut kubu kita, mereka yang begitu!

Begitu mudahnya kita mengatai orang yang berbeda gagasan dengan berbagai embel-embel.
Seakan sudah jaminan gagasan kita 100% benar.
Seakan jidat kita sudah ada logo MUI-nya.
Seakan kening kita sudah berlabel "dijamin berkah"-.
Seakan gagasan kita sudah punya sertifikat SNI, ISO-2000, dan "Jaminan Masuk Surga".

Padahal kita cuma mempersoalkan perkara DUNIA saja.
Yang sifatnya fana.
Yang ikhtilaf.
Yang subyektif.
Tapi bukan main dalil-dalil keilahian kita bangun sedemikian rupa untuk membenarkan gagasan kita.
Sungguh hebat kita ini, memanfaatkan Tuhan untuk kelancaran gagasan kita tentang politik kekuasaan!

Saya bilang "kita" berarti saya juga, sodara.

Saya sudah bersikap keterlaluan.
Saya sudah melupakan pentingnya menjalin ukhuwah.
Saya keasyikan mengoceh sampai berbusa-busa.
Saya khilaf.

Saya bersyukur Allah menegur saya lewat mimpi. Saya tidak berani membayangkan Allah menegur saya lewat azab, misalnya. Nauzubillahimindzalik....

Mungkin ini juga teguran bagi teman semua (tidak hanya saya). Hanya kebetulan saja Allah menyampaikannya lewat saya yang percaya mimpi (tertentu) ada maknanya.

Akh sudahlah.....
"Mungkin-mungkin" di atas cuma spekulasi, bisa jadi bahan perdebatan lainnya. Setidaknya kita sepakat bahwa perang gagasan tidak menggiring kita kemuana pun KECUALI pada kehancuran.
Orang bijak menyebutnya, "menang jadi arang, kalah jadi abu."

Karena itu....

Saya mohon maaf pada teman-teman yang pernah terlibat perang gagasan dengan saya.
Maaf jika saya pernah menyinggung hati.
Maaf jika saya membuatmu bersedih hati.
Saya putuskan berhenti melibatkan diri dalam peperangan ini.
Atau mengurangi frekuensinya secara bertahap (tapi pasti).

Cukuplah Allah menjadi penolong saya
Cukuplah Allah menjadi penolong kita semua
Sesungguhnya Dia sebaik-baiknya penolong.....


Kamis, 14 Agustus 2014

Yakin BOIKOT Bisa Selamatkan Palestina?



Sebelum jawab pertanyaan di atas, baiknya simak cerita saya ini.

Rumah saya, kebetulan ada di gang buntu. Gang buntu itu sempit sekali, punya tikungan yang cukup riskan. Ironisnya, di sana nangkring warung gado-gado yang semakin membuat riskan. Warung itu jadi blind-spot sehingga kecelakaan sering terjadidi sana.

Lucunya, pemilik warung tidak mau disuruh pindah. Dia ngotot bercokol di sana meski harus berantem dengan sesama tetangga. Padahal waktu buka lapak di sana pun dia tidak pernah minta izin.

Puncak pertengkaran terjadi sebelum bulan Puasa kemarin. Saat mau membersihkan lapak, dia kaget melihat etalase dagangannya pecah atau dipecahkan seseorang. Dia mengira ada tetangga sengaja memecahkan demi mengusirnya (padahal konon ini kerjaan ABG yang sering nongkrong malam-malam yang nggak sengaja memecahkan etalase itu lalu kabur). Dia langsung emosi pada semua tetangga. Tidak berhenti di situ, dia telepon pamannya yang oknum TNI berpangkat sersan.

Ilustrasi aja. Bukan lapak yang dimaksud
Oknum TNI itu datang, memeriksa kondisi lapak sambil berkacak pinggang dan melotot ke semua orang. Suasana mencekam, warga takut oknum itu menuduh serampangan merekalah pelakunya. Siapa juga memangnya yang mau dikepruk oknum TNI, apalagi bukan dirinya yang harus dikepruk.

Untung keburu Maghrib, oknum itu memilih pulang tanpa menangkap sebiji pun tesangka. Tapi rasa tidak nyaman menguar dari hati para warga. Mereka merasa diteror secara batin, terlebih dengan aura permusuhan yang berlarut dengan pemilik warung. Bukan tidak mungkin suasana ini akan terus terulang bahkan kian parah di setiap "percikan" kecil.

"Padahal kalau dia mau direlokasi, kejadiannya nggak akan begini," kata seorang warga.
"Sebenarnya kita bisa lho, Pak, merelokasi dia tanpa perlu berantem terus kayak gini," kata warga lain.
"Ohya? Gimana?"
"Tinggal jangan dibeli aja dagangannya. Kalau nggak laku, dia juga pasti pindah."

Dari cerita di atas, kita sudah bisa mengasosiasikannya dengan kejadian Palestina yang diserang (bahkan dikepung terus) oleh mitraliur israel, kan? Jadi, boleh dibilang, kita setahap bisa yakin bahwa aksi boikot bisa menjadi jalan keluar untuk konflik Palestina.

Tapi..... ada tapinya.....

Seperti banyak dibahas oleh netizen yang kontra cara ini, boikot produk menimbulkan ekses negatif, seperti kita membuat banyak karyawan perusahaan yang kita boikot itu jobless. Sama seperti ekses kalau cara warga di kampungku berhasil, si pemilik warung bisa bangkrut. Masih mending kalau dia bisa dagang di tempat lain. Logikanya, dia dagang di tempat riskan begitu pasti karena dia tidak mampu bayar sewa tempat di lokasi lain. Dia pedagang miskin. Yakin dia punya modal lagi kalau dirinya bangkrut?

Kalau soal ini sebenarnya lain soal. Ini baru terjadi di pikiran kita saja. Kalau pedagang gado-gado itu bisa jadi gagal di tempat lain, berarti dia juga BISA JADI sukses, kan? Artinya masih fifty-fifty. Masih tentatif. Yang penting selesaikan dulu masalah yang terjadi sekarang.
Kelompok Yahudi Haredi/Ortodoks juga ikut boikot demi kemanusiaan
Malahan, perusahaan-perusahaan pendukung (agresi) Israel itu tidak akan (keburu) bangkrut gara-gara biokot lho. Satu keuntungan kita melawan negara/perusahaan kapitalis itu adalah "SEMUANYA MEREKA UKUR DENGAN KEUNTUNGAN". Mereka akan mendukung sesuatu selama mereka masih merasa untung, atau minimal selama dompet mereka masih terjamah tebal. Coba aja sekalinya keuntungan mereka menurun, mereka akan mulai panik sendiri.

Buktinya sudah kelihatan. Beberapa perusahaan yang disinyalir menyalurkan dana untuk kegiatan propaganda Israel mulai panik, lalu mengadakan konpers, dan menyatakan mereka tidak ada hubungannya dengan program Zionisme atau tidak menyalurkan uang mereka ke sana.

Coba bandingkan dengan Korea Utara. Mau diembargo segimana juga mereka tetap bisa mandiri, karena tokh tatanan ekonomi mereka tidak didasarkan pada kapitalisme.

Jadi mengulang pertanyaan apakah kita yakin boikot bisa selamatkan Palestina?

Ya, kita yakin bisa. Minimal sebagai alat tawar menawar agar Israel mau mendengarkan aspirasi kita yang mengidamkan perdamaian  antar-segala etnis (tidak melulu Palestina) di atas segalanya. Tokh, saya pribadi percaya, langkah "diplomasi" lebih ampuh daripada langkah "mata dibayar mata". ;)

Senin, 11 Agustus 2014

AWAS!! Siapa Tahu Kamu Terjangkit Virus ISIS-Phobia




Menurut saya, menolak ISIS itu wajib, karena mereka menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Kalau kamu penggemar Naruto, kamu bisa mengandaikan ISIS dengan Madara Uchiha.

Madara Uchiha punya niat mulia membangun "dunia tanpa kekerasan" tapi dengan cara salah dan sistem yang salah. Mugen Tsukuyomi yang dicita-citakannya (harus) dibangun dengan menghancurkan keselamatan semua orang.

Kenapa saya ibaratkan dengan Madara Uchiha? Biar gampang aja. Tokh, Madara nggak punya akun media sosial, jadi saya nggak takut dituduh mem-bully hi hi.....

Nah, sepak terjang ISIS ini menimbulkan penolakan khalayak ramai. Tapi rupanya penolakan ini juga menimbulkan gejala ISIS-phobia.

ISIS-Phobia yang saya maksud adalah ketakutan/kecurigaan berlebih terhadap sesuatu yang (mungkin) berbau ISIS. Saya melihat sendiri gejalanya di kalangan teman-teman saya di media sosial. Saya jadi takut suatu saat orang jadi mudah melabeli orang lain sebagai ISIS,  seperti tempo dulu orang mudah melabeli lainnya dengan embel-embel "tafir", "wahyudi", "rhemason" "balpirik", dst.

Sebelum hati kita kadung terjangkiti phobia ini, ada baiknya perhatikan tips-tips di bawah ini:

1. Dont' Judge Book by Its Cover (1)
Jangan hakimi manusia lain dari penampilannya. Contoh, kalau selama ini teroris ISIS itu berjanggut dan berjilbab lebar, maka belum tentu SEMUA yang berjanggut dan berjilbab lebar itu ISIS. Begitu juga sebaliknya. Nggak semua orang bertato dan nggak berjilbab itu hedonisme semua.

2. Dont' Judge Book by Its Cover (2)
Masih soal atribut. Jangan hakimi (keimanan) orang dari atribut kalimat syahadat yang ditampilinnya. Bendera ISIS sudah pasti mencantumkan kalimat syahadat. Orang yang kebetulan benci ISIS bisa saja mengidentikkan kalimat syahadat itu dengan ISIS. Padahal ISIS aja yang songong, tapi orang yang  pengin beragama bener dan lurus yang kena getahnya. Ironisnya, atribut agama dimana pun ternyata sebenarnya gampang banget dimanfaatkan orang yang haus kekuasaan. Nggak cuma Islam, agama lain pun begitu. Pertanyaannya, kenapa mereka sengaja memakai atribut agama? Tentu saja untuk meraih simpatimu! Apalagi kalau rasa ingin membela agamamu tinggi, tapi pengetahuan agamamu  jongkok, kamu akan dengan mudah ikut bergabung cuma dengan iming-iming "jaminan surga di akhirat nanti". Padahal surga itu punya siapa, yang berani janjiin surganya siapa. Kan mendingan percaya sama janji pemilik surga sesungguhnya tho?

3. Buang Stigma "Friend or Foe"
Stigma di atas populer waktu zaman perang dingin. "Kalau lu nggak jadi temen gue, berarti lu musuh gue." Stigma ini juga masih nge-hit di zaman sekarang, dan ironisnya muncul tiap hari saat Pilpres 2014 kemarin. Orang dengan mudahnya menganggap orang lain musuh cuma gara-gara pilihannya beda. So, stop it right now! Kalau kamu nggak berhenti sekarang juga, bisa-bisa kamu terlalu menghayati peranmu, lalu ia akan menjadi kepribadian kamu yang baru, selama-lamanya!

4. Jangan Asal Nge-Share Berita
Satu kebiasaan yang sedang ngetren--sejak Pilpres 2014 kemarin-- adalah kebiasaan nge-share berita. Mungkin kitanya yang terlalu "berdedikasi". Mungkin kita terbawa perasaan ingin membela "kebenaran". Mungkin kitanya juga terlalu percaya pada orang yang ingin kita share beritanya. Padahal setiap orang punya kelemahan/kekurangannya masing-masing. Dia belum tentu maha-serba-tahu apa yang terjadi di luar sana. Siapa tau dia pun dapat berita cuma "katanya" dan "katanya". Dan siapa tahu "katanya-katanya" itu bermuatan opini/terjemahan/curhatan pribadi yang bisa merusak kevalidan berita.

Ini contoh berita valid yang disampaikan berantai, akhirnya rusak gara-gara opini/terjemahan/curhatan pribadi yang salah :

Adegan I
Budi : Eh, katanya si Ani sakit ya? Sakit apa?
Umar : Iya, sakit liver.

Adegan II ;
Deny: Bud, katanya Ani sakit ya? Sakit apa?
Budi : Iya, sakit liver.
Deny: Liver itu apa sih?
Budi : hati.

Adegan III :
Maman : Den, denger-denger Ani sakit ya?
Deny: Iya, man. Sakit hati.
Maman : Apa?? Sakit hati?!

Adegan IV :
Maman (nulis di facebook) : "Ani ternyata sakit hati. Hayoo gara-gara siapa?"
Jarwo : Wah, berita bagus tuh. Aku share ya.
 tonto : Aku juga share .

Adegan V, VI, VII, dst :
Semua teman-teman Ani yang baca berita berantai itu yakin Ani dirawat di rumah sakit gara-gara diputusin cintanya oleh seseorang....

Kesimpulan, jangan asal nge-share berita. Kita harus jeli benar sebelum nge-share. Syukur-syukur kamu bisa melacak infonya sampai ke pemberi info pertama, atau yang mengalaminya langsung (narasumber primer). Ini yang juga dilakukan oleh para pengumpul hadis yang melacak sanad perawi-nya. Jika semua perawi terbukti orang-orang jujur, hadis dikatakan shohih. Tapi jika ada satu saja perawi yang ahli bullshit, hadis langsung jadi maudu/palsu.

Tapi kalau kamu punya akses terbatas untuk melacak "sanad" ini, baiknya kamu kaji benar teks yang kamu mau share. Baca berita itu hakikatnya sama seperti baca novel. Kalau logika certanya nggak nyambung, jangan gitu aja percaya. Contoh, berita "ISIS dikabarkan didirikan oleh Israel, Iran, Suriah, dan AS."  Mungkin nggak itu terjadi? Mungkin saja, kan kita nggak tahu apa yang terjadi di luaran. Tapi aneh ga menurut logika cerita? Aneh! Kenapa? Karena Israel dan AS itu musuhan sama Iran dan Suriah. Kok bisa akur banget diriin ISIS? Gimana ceritanya itu bisa akur? Kok nggak bikin acara halal bihalal aja gitu yang lebih gampang? Dari sini aja logika cerita nggak nyambung. Ada missing link. Taruhlah, faktanya ISIS memang didirikan keempat negara itu. Tapi untuk sementara, baiknya kamu menyimpulkan berita ini tidak valid. Bisa kebayang nggak kalau kamu nge-share berita nggak valid jatohnya gimana dalam agama? Jatohnya akan menjadi suudzon, bahkan fitnah! Nauzubillah...

Jadi, sekali lagi, jangan asal nge-share berita, KECUALI tulisan saya ini *ting

5. Jangan Silau oleh Kata "Demi Membela Kebenaran"
Ingat, kebenaran hari ini bukan kebenaran esok hari. Kebenaran esok hari bukan kebenaran esok lusa. Kebenaran itu bukan kenyataan! Dulu manusia percaya bumi datar, itu benar. Sekarang manusia percaya bumi bulat, itu juga benar. Besok siapa tahu bumi ternyata kotak! Timeline-nya beda, kan? Jadi jangan terlalu yakin dengan ucapan orang yang mengajak kamu berjihad demi membela kebenaran. Kebenarannya milik siapa dulu?! Lha, Pemilu lalu aja pendukung No 1 yakin sedang membela kebenaran dan pendukung no 2 juga percaya sedang bela kebenaran, kan?

6. Kembalikan semuanya pada Ajaran Agama
Sudah pasti cuma Tuhan yang memiliki kebenaran hakiki. Kebenaran yang nggak berdasarkan versi siapa-siapa. Jadi cara paling baik agar tidak terjebak ISIS adalah kembali pada dogma agama kita. Berhubung agama saya islam, saya cuma menampilkan poin-poin penting Islami yang bisa kita jadikan filter "kebenaran" kita :
a. Islam itu agama damai. Islam mengutamakan jalur perdamaian daripada jalur kekerasan.
=> jadi kalau ada yang pakai kekerasan (meskipun ngaku Islam), abaikan!
b. Islam itu menerima perbedaan
=> jadi kalau ada yang maksa Islam itu harus seragam pikirannya, pakaiannya, pandangan politiknya, abaikan! Islam cuma peduli kita seragam dalam urusan ibadah mahdhoh.
c. Islam menyadari sepenuhnya kalau hidayah itu hak prerogatif Allah.
=> jadi kalau ada yang keukeuh mem-bully orang yang lepas jilbab, misalnya, dan menganggapnya "tafir", maka ia sedang ingin memainkan hak yang cuma dimiliki Tuhan.
d. Islam bilang sebagian dari sangkaan itu dari setan
=> jadi kalau ada orang yang begitu mudahnya bilang orang ini begini orang itu begitu tanpa aturan yang jelas, kamu tahu dia siapa.........?
e. Islam itu menitahkan kita berkata yang baik-baik saja.
=> kalau nggak bisa, mendingan diam!
f. Islam itu melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangannya
=> kamu sah dibilang Islam kalau menjalankan shalat, dst, dan tidak mengonsumsi miras, dst. Tapi Allah lho, yang mensyahkan, bukan manusia.
g. Islam itu mengikuti ajaran Nabi SAW
=> Dan Nabi nggak pernah menyuruhmu membunuh orang yang tidak mengikuti arah politikmu.
f. Islam menitahkan kita untuk melihat apa yang dibicarakan orang, bukan siapa yang berbicara
=> ini diucapkan Ali bin Abi Thalib. Mungkin keponakan Nabi SAW ini udah tau suatu saat umat Rasulullah akan lebih mengultuskan pimpinan politik/kelompoknya, sehingga mudah percaya saja apa kata pemimpin mereka sekalipun salah, dan mudah memandang salah orang dari luar kelompok mereka sekalipun benar. padahal Islam mengabarkan pada kita bahwa cuma Rasulullah-lah manusia yang terjaga dari salah dan dosa.

Jadi, Pembaca. Jika suatu saat engkau ikut pengajian dan ternyata pengajian itu mengajarkanmu alan kekerasan (sekalipun berdalih jihad), jangan gampang menuduhnya ISIS. Tapi jangan juga memercayainya. Sebab sebaik-baiknya umat adalah ketika kamu menjaga diri kamu dan keluargamu dari api neraka (baca: ajaran yang sesat), tapi tidak mudah menghakimi orang lain yang berbeda denganmu di  media sosial.

Baiknya lapor saja pada RT/RW atau kepolisian, agar diklarifikasi langsung secara legal. Daripada bikin heboh media sosial doang, hayoooo?

Terakhir, mari kita sekali lagi sama-sama teriak:

Senin, 21 Juli 2014

Slurpee Halal?

Terus terang saya paling demen minum Slurpee-nya Seven Eleven. Efek brain freezing-nya itu lho bikin ketagihan. Tiap ke Gambir, kusempet-sempetin beli di kompleks stasiun.

Tapi sering terpikir ini minuman halal nggak sih? Apalagi nggak sebiji pun logo halal tersemat. Beda dengan Pepsi atau Coca Cola, misalnya, yang sama-sama minuman dari Barat  tapi udah disertifikasi MUI.

Penasaran, kutanya petugas kasirnya.

"Mas, makanan-minuman asli sini halal nggak sih? Hot dog atau katsu ini, misalnya."

Jumat, 04 Juli 2014

CATAT : Ramadhan ini, Kamu JANGAN Sedekah!


Ini pendapat saya pribadi, jangan dipolitisir.

Saya pernah kerja  ngurus zakat, infaq, sedekah di Jakarta dulu. Selama 2 tahun kerja, saya nemu banyak "keganjilan" dalam proses ini.

Logikanya, ini pekerjaan mudah. Tinggal kumpulkan dana dari donatur, lalu cari saja orang miskin, lalu kumpulkan, lalu santuni, lalu beres lah. Di mana kita mendapatkan orang miskin? Ah, gampang! Comot di jalanan Jakarta juga pasti banyak!

Tapi kenyataan nggak segampang itu. Ini pertanggungjawabannya besar kalau nggak diatur profesional. 'Tul nggak? Mesti diteliti betul-betul latar belakang penerimanya.