Halaman

Setiap kejadian punya kisah lain di belakangnya. Ibarat panggung pertunjukan, situasi di depan dan belakang sama riuhnya. Situasi di depan, orang banyak yang tahu. Lalu bagaimana kisah di bagian belakangnya?

Di tempat inilah cerita (di belakang panggung) bergulir.......

Jumat, 20 Februari 2015

[MEME] TERLALU! Dua Sejoli Ini Kepergok Berduaan dalam Mobil

TERLALU!! Di parkiran sepi, di dalam mobil yang kaca filmnya item banget, dua sejoli ini kepergok asyik berduaan saja di dalam mobil tidak peduli orang lain.


Redaksi berhasil merangkum beritanya ke dalam meme.
Inilah dia.....


Rabu, 18 Februari 2015

[MEME] Gara-Gara Batu Akik, Gollum jadi Stress. Ini buktinya

Demam batu akik di indonesia ternyata bikin Gollum dari The Lord Of The Ring marah, mupeng, pasrah :D Ini buktinya :






Selasa, 27 Januari 2015

DAUD BUKAN LAWANNYA GOLIATH (Dongeng tentang Berniaga dan Tokobagus)

Saya mau mendongeng. Dongeng yang agak basi, karena apdetannya 14 Januari 2014 kemarin. Nggak apa-apalah.... namanya juga orang sibuk (ceilah....) baru nyadarnya hari ini.

Di rumah, istri lagi nangis gegerungan karena LCD laptopnya rusak. Sebagai suami yang baik keuangannya lagi tiris karena terlalu konsumtif beli perabotan  rumah baru, terpikirlah untuk mampir ke berniaga.com. Niatnya jelas mau cari laptop tangan kedua buat gantiin leptop bini.

Saya ketiklah kata "berniaga.com" di Chrome. Kok munculnya olx.com?
Saya ketik lagi kata "berniaga.com". Muncul lagi olx.com.
Wah, ada yang ngerjain laptop gue nih. Lewat suatu cara dia berhasil ngebajak laptop sehingga muncul situs olx setiap saya ngetik nama situs saingannya itu.
Tapi tunggu dulu. Kok saya nemu gambar ini di laman utama olx?


Omigot!! Jadi.... jadi..... dua kompetitor ini udah jadi satu??? Mereka udah akur sekarang layaknya Daud sama Goliath yang milih cipokan daripada berantem smackdown?!
Alasannya apa?
Dirundung penasaran, saya googling, dapat berita di situsnya jonru CNN Indonesia yang saya anggap kredibel membahas ini:

 OLX dan Berniaga sama-sama situs web iklan baris online. Keduanya bersatu setelah terjalin kesepakan antara Naspers dan Investor Berniaga, 701 Search, pada 14 November 2014.
Naspers dan 701 Search akan membenntuk perusahaan patungan di Brasil, Thailand, Bangladesh, dan Indonesia. Di Indonesia, Naspers akan jadi pemegang saham mayoritas menguasai 64 persen di preusahaan patungan ini, sementara 701 Search sebesar 36 persen. Nantinya, layanan Berniaga bakal ditutup dan merek OLX dipertahankan.
701 Search merupakan gabungan antara perusahaan Schibsted (Norwegia), Telenor (Norwegia), dan Singapore Press Holdings (Singapura).


Timeline berita ini Kamis, 20 November 2014, saat kesepakatan itu terjadi. Kalau tutup usia berniaganya ya Januari 2015. Lihat berita Detik ini.

Merger-mergeran seperti ini boleh dibilang jamak terjadi. Dari klub sepakbola sampai bank swasta sah-sah aja dimerger. Yang penting situ punya daun duit buat memerger.

Hanya saja, saya kok jadi sedih baca "dongeng" ini ya? Rasanya saya nggak akan lagi nemu asyiknya berselancar di lapak barang second semacam ini. Kalau dulu kan kesannya rame, heboh, seru. Persis seperti saya lagi ada di tengah-tengah kompleks toko-toko kelontong yang pedagangnya ribut bilang barang di tokonya kelas wahid semua. Mereka punya gaya dan ciri khas masing-masing. Kita bisa bebas mampir dan keliling ke manapun kita mau. Tapi besoknya, pas kita main lagi ke kompleks ini..... "SLEP" semua toko kelontong berwajah sama semua. Nggak ada lagi gaya dan ciri khas, bahkan nggak ada lagi hiruk pikuk seru berbalut kompetisi riuh rendah.

Semuanya berganti menjadi aroma keseragaman demi bermuaranya profit ke satu arah saja.

Aih, kok saya jadi suuzon ini semata untuk membunuh kompetitor ya? Istilahnya, monopoli.

Aduduh.... syuh... syuh.... pergi jauh kau prasangka!

Satu hal yang pasti, sepertinya Daud tidak pernah bisa mengalahkan Goliath, kalau apa yang kita bicarakan adalah uang.......

Senin, 17 November 2014

7 Bulan Setelah KENA GUSUR

Tujuh bulan lalu, saya kena gusur, kehilangan rumah saya yang sederhana di pinggiran Jakarta. Kepaksalah saya sekeluarga jadi makhluk nomaden; numpang idup di rumah mertua. Kalau saya sama istri sih udah uzur, udah sadar sama realita. Tapi si sulung (4 th) masih suka dihajar rindu.

"Pengen pulang ke Rumah Biru," katanya, nyebutin panggilan sayang (eks)-rumahnya.
"Pengin ngaji sama Bunda Ngaji."
"Pengin main sama Fifah, sama Qila, sama Afif."

Nyesek rasanya liat dia kangen gitu.
Si Sulung kangen Rumah Biru
Tapi.... berhubung kami kena gusur dalam tanda petik, alias atas keinginan kami sendiri, sebenernya nggak terlalu nyesek..... Rumah itu dijual atas kesadaran penuh bahwa saya pindah kerja ke Cirebon, kampung halaman istri. Kami bosan idup di Jakarta. Berhubung takut uang hasil penjualan cepet habis, buru-burulah kami beli rumah baru di kawasan Ciperna, pinggiran kota Cirebon.

Kalau dipikir-pikir, kok kami seneng banget ya tinggal di pinggiran? Biarin lah, biar nggak terlalu sumpek liat keramaian.

Maka inilah, rumah baru kami. Si Sulung menyebutnya Rumah Merah.
Si Rumah Merah
Menurut saya kiyut, tapi adaaa aja yang nganggap aneh.

"Kok ada ya, yang suka warna merah-putih? Seneng timnas ya? Nasionalis banget..." kata tukang konblok.
"Nggak juga. Mas Bos kan seneng Manchester United," kata tukang kayu.

Padahal saya penggemar Chelsea.
Para tukang yang berdedikasi.
Mereka berubah  jadi "Cheerleaders Pemasang Lampu", pas tangga lagi dipake.
Thanks, Bros!!
Masih mending dianggap Nasionalis. Mertua malah nyangka saya kader partai gara-gara warna merah itu. Boro-boro jadi kader, jadi simpatisan partai mana pun saya males :)
Rumah baru ini agak lebih besar dan luas dibanding rumah  lama. Tapi harga belinya sama, karena harga pinggiran Jakarta pasti lebih mahal daripada pinggiran Cirebon :)

Tapi harga bukan bahasan penting, tokh rumah saya tetaplah sederhana. Kenikmatannya ada pada saya yang boleh mendesain sendiri si Merah. Beda dengan si Biru yang sudah dibangun dulu developer. Dari mulai bikin denah, nentuin semen, nentuin cat, sampai kabel listrik, saya terlibat langsung. Nggak mesti pakai merek mahal, yang penting berkualitas--terutama kabel listrik yang terkait keselamatan nyawa.


So, Thank God, akhirnya kami punya tempat bernaung lagi.

Nah, kalau kalian ada di Cirebon atau lewat tol Cirebon, silahkan mampir. Rumah saya cuma sepelemparan sendal dari tol Palikanci. Saya pasti menyambut dengan senang hati :D

Rabu, 29 Oktober 2014

Jam Kerja di Jakarta Dimajuin? Ga Ngaruh!!

Baca berita Ibu Menteri Susi Pudjiastuti memajukan jam kerja ini, perasaan saya jadi ngilu. Karena persoalan jam kerja inilah yang bikin saya hengkang dari Jakarta.

Saya tidak pernah merasakan asyiknya berangkat pagi. Untuk masuk kerja jam 8 saja, saya harus berangkat jam 6. Belum kalau malamnya hujan. Bisa gawat itu. Saya harus perkirakan ruas-ruas mana yang terputus banjir, lalu ruas-ruas mana yang bakal terjadi penumpukan kendaraan. Buat antisipasi, mestilah saya berangkat lebih pagi lagi.

Belum pulangnya. Di Jakarta, jam 14 aja lalu lintas sudah padat merayap. Puncaknya jam 17-19. Kalau ditambah kondisi habis hujan, maka siap-siaplah lagi sampai rumah jam 22!

Itu baru saya, yang tinggal di Bekasi. Pada tahu kan, Bekasi jauhnya kayak gimana? :)

Berita "bagus"-nya, temen saya yang tinggal di Bogor lebih dahsyat lagi. Dia mesti berangkat jam 4--bahkan solat subuh di stasiun--supaya bisa datang ontime!


Jadi, waktu ibu menteri baru, Susi Pudjiastuti, bikin kebijakan baru memajukan jam kerja, saya pikir ini nggak efektif, walaupun dengan alasan biar cepat kumpul sama keluarga.

Silahkan tanya anak saya. Jam berapa biasanya bokapnya berangkat dan pulang kerja. Jawabannya pasti gampang : "waktu aku masih bobo dan waktu aku udah bobo." Berangkat lebih pagi lagi? Ya sama saja, sebab yang kita bicarakan itu rush-hour Jakarta yang begitu panjang: jam 5-10 dan jam 15-19 malam.

Pada akhirnya saya datang ke tempat kerja dalam kondisi kucel--padahal waktu di rumah sudah rapi jali kayak Leonardo diCaprio di film American Hustle. Nanti pulang juga pasti makin kucel. Saya jadi kesel. Rasanya gimana gitu, setiap hari saya menghabiskan waktu sia-sia selama 4 jam di jalanan, padahal kalau dipake buat nulis bisa dapat berlembar-lembar! Puncaknya saat saya mesti melewatkan kesempatan besar gabung tim kreatif sebuah PH gara-gara sempitnya waktu berkualitas buat ngejar deadline. Ya sudah, saya pindah kerja aja ke kota yang lebih ramah pengguna jalan. Maksudnya, biar kerjaan yang berdasarkan gaji tetap lancar, kerjaan yang berdasarkan honor "musiman" juga lancar (padahal kalau pengen milih, bukan Jakartanya yang saya tinggalkan tapi kerjaan kantorannya :D akh sudahlah, ini bukan bahasan sekarang)

Tapi saya pernah suka banget sama jam kerja di Jakarta. Itu waktu tempat kerja saya dipimpin oleh bos yang "fleksibel", yang "bikin kebijakan" datang  jam 10, pulang jam 20.  Dia membolehkan anak buahnya telat, syaratnya lembur tanpa minta uang lembur. It's fine. Malahan bagus. Saya bisa ngajak main dulu anak, atau nganterin dia ke tempat ngaji (anakku ngaji pagi hari). Habis itu berangkat kerja saat lalu lintas udah agak lengang.

Pulangnya  juga gitu. Lalu lintasnya agak lengang, maka sampai rumah pun bisa lebih cepat; bisa 30 menit doang! Bandingkan dengan keberangkatan /kepulangan saya kalo rush-hour yang ngabisin waktu 2 jam-an.

Memang sih, konteks yang Ibu Susi Pudjiastuti bahas adalah jam kerja (layanan) instansi pemerintah. Kesannya aneh, gitu, kalau instansi pemerintah buka siang-siang dan tutupnya malam-malam. Tapi Pemprov DKI udah membuktikan, pas mereka buka layanan malam hari, masyarakat juga tetep datang. Intinya kan masyarakat bisa datang kalau dia senggang. Siapa tahu dia harus cuti kerja dulu biar senggang. Kalau boleh milih, mereka pasti pilih datang memenuhi urusannya di instansi pemerintah tanpa mengorbankan kerjaan/jatah cutinya. Jadilah pelayanan malam pilihan yang sangat menggiurkan.

Nah, kenapa Ibu Susi tidak mencoba itu?

Oke.... oke..... tidak semua orang berkenan dengan model kerja "ekstrim" begini, terutama kaum hawa. Mungkin cara lebih asik adalah "pembagian waktu kerja yang terstruktur sistematis, dan massif". Maksudnya, nggak satu instansi aja yang ngatur jam kerjanya, tapi SELURUH penghuni Jakarta. Misal, khusus anak sekolah masuk jam 6;  Khusus instansi pusat jam 7; Khusus instansi kotamadya jam 8; Khusus swasta sektor jasa jam 9; khusus swasta sektor perbankan jam 10; dan seterusnya. Kan asik tuh mereka nggak plek ketiplek di jalanan dalam waktu bersamaan.

Tapi saya sih (tetap) lebih suka jam "ekstem" di atas. Mengatur  jutaan makhluk Jakarta lebih susah dari mengatur ratusan orang. Let me tell you this, waktu aku kerja "ekstrim"  itu, 2/3 pekerjanya berujud CEWEK. Sebagian mereka single, sebagiannya lagi sudah beranak pinak. Dan mereka berani mati tetap kerja walau jam udah nunjukin pukul 23 pas!!

Selasa, 21 Oktober 2014

Mari Ngintip Kalender 2015

Yang bosan dengan rutinitas......
Yang berencana cuti (panjang) tahun 2015.....
Yang menghemat cuti untuk waktu yang tepat....
Mari merapat, kita intip kalender 2015




Selasa, 07 Oktober 2014

6 Animasi Lokal Mulai Unjuk Gigi

Belakangan ini makin banyak animasi made in Indonesia seliweran di layar kaca. Wah, bagus tuh! Tandanya animasi lokal sudah diakui daya jual-nya (ya iyalah... memangnya apa lagi pertimbangan utama stasiun TV he he).

Memang, gambarnya nggak semua menggembirakan. Tapi sebagai penggemar animasi, saya sangat gembira menyambutnya. Makanya saya berbaik hati bagi-bagi info tentang mereka. *Jangan lupa nonton ya. Siapa lagi kalau bukan kita yang menyukseskannya?

1. KELUARGA SOMAT
Diproduksi oleh Dreamtoon, ditayangkan Indosiar di program Sinema Anak Pagi. Ceritanya seputar keseharian Pak Somat si pegawai pabrik, istrinya Inah si IRT yang buka warung, anaknya Ninung yang centil, dan anaknya Dudung yang badung. Belum ditambah tetangga-tetangganya yang heboh atau tulalit. Itu bumbu komedi yang asik dalam cerita.

PLUS : Ceritanya menyangkut keseharian penduduk Indonesia; karakter per orang sederhana dan gampang diingat.

MINUS : Komedinya kadang terasa maksa; Gerakan animasi kurang halus, mala sering muncul perulangan adegan.

2. SI ENTONG

Si Entong diproduksi inhouse-nya MNC, yakni MNC Animation. Tayang di MNCTV setiap Rabu sore. Si Entong sudah pernah dibikin sinetron manusianya, jadi (sebagian) pemirsa sudah kenal nama dan cerita dasarnya.

Dilihat dari kompleksitas tokoh (animasi), saya sih optimis Si Entong bisa menyaingi Upin Ipin, asaaaaallll...... kita siap menyukseskan produk dalam negeri kita ini.

PLUS : Diangkat dari "merek dagang" yang sudah kesohor, publik sudah akrab dengannya; Cerita tidak dangkal (ini masalah klise animasi lokal--karena seorang animator handal belum tentu penulis cerita yang handal), karena sudah ada fondasi kokoh dari sinetronnya.

MINUS : Kekuatan karakter di sinetronnya sedikit terkurangi. Contohnya karakter (wajah) si Entong. Kalau di sinetron terkesan cerdik, baik, dan agak nakal, tapi di animasi terkesan baik (saja);

3. ADIT dan SOPO JARWO

Salah satu animasi yang dapat pujian KPI. Diproduksi MD Animation untuk MNCTV, tayang sore hari Senin-Jumat. Bercerita tentang Adit cs yang menjalani kesehariannya penuh petualangan. Sayangnya ada preman suka rese merecoki mereka. Namanya Sopo Jarwo. "Perseteruan" kedua kubu beda generasi inilah yang jadi kekuatan cerita.

PLUS : Artwork-nya bagus; Gerakannya lembut; Ceritanya variatif; Dan ada cameo Deddy Mizwar dalam sosok tokoh Haji Udin.

MINUS : Somehow, perseteruan antara Adit cs yang masih bocah dengan Sopo Jarwo yang sudah "uzur" rasa-rasanya kurang masuk di otakku. Terutama Sopo Jarwo-nya. Iseng banget sih ngerjain anak kecil mulu? he he.....

4. KIKO
Satu lagi karya MNC Animation. Konsepnya agak "melanggar" mainstream animasi lokal yang mengangkat nuansa khas Indonesia. Konsepnya mengambil gaya Finding Nemo ataupun Spongebob, yakni "dunia bawah air". Bercerita tentang para penghuni danau yang berubah jadi "mutan" gara-gara danau tercemar. Mereka tidak lagi berujud ikan, tapi sosok-sosok "kartun" yang imut dan lucu, yang menjalani kehidupannya juga penuh daya imut dan lucu. KIKO tayang di RCTI setiap Sabtu pagi.

PLUS : Dubbing KIKO sangat natural, terutama dubbing karakter Lola yang cerewet.

MINUS : Konsep ceritanya sama seperti Si Entong dan Adit & Sopo Jarwo : ada musuh bebuyutannya. Somehow, aku kurang antusias dengan animasi seperti ini. Kesannya permusuhan itu "mesti" dijaga, meskipun  dari situ bisa diajarkan tentang pentingnya kebaikan.

5. PETOK, SI AYAM KAMPUNG

Ini nih animasi yang aku salut. Animatornya berani menggunakan teknik stopmotion. Stopmotion adalah teknik animasi berupa foto-foto yang digabungin membentuk gambar hidup. Obyek foto biasanya terbuat dari lilin/malam. Kita bisa melihatnya di serial Shaun The Sheep atau Wallace  & Gromit. Tapi jangan dibandingin sama kemapanan kedua animasi itu lho. Kita harus menghargai keberanian Dreamtoon membuat konsep berbeda. Kekurangan di sana-sini sangatlah wajar.

Petok si Ayam Kampung tayang di Indosiar di program Sinema Anak Pagi

PLUS : Ini serial TV stopmotion pertama dari Indonesia; Imej tokohnya imut-imut, cocok dijadiin merchandise buat nambah dana pengembangan stopmotion di Indonesia :)

MINUS : Plotnya kurang kuat. Cerita terkesan (terlalu) mengalir begitu saja. Kita malah lupa si Petok sedang dalam misi apa.

6. KUKUROCKYOU

Wah, Si Petok punya saingan nih. Namanya Jagur, sesama ayam jago, tapi terobsesi jadi rocker. Kukurockyou dibikin dengan teknik 3D oleh Digital Global Maxinema, ditayangkan Indosiar jam 9 pagi. Sejauh pengamatanku, animasi ini sangat menjanjikan.

PLUS : Gambarnya bagus, dubbingnya asik, musik latarnya sedap, dan kabarnya dikontrak oleh Nickelodeon untuk pasar Internasional. Waow!!!

MINUS : Komposisi warnanya menurutku terlalu menonjok mata. Tapi... sudahlah... tiap animator kan punya gaya....ngapain dibikin pusing? :p

Ini daftarku. Barangkali pembaca tahu animasi lainnya, monggo dibagi :)