Halaman

Setiap kejadian punya kisah lain di belakangnya. Ibarat panggung pertunjukan, situasi di depan dan belakang sama riuhnya. Situasi di depan, orang banyak yang tahu. Lalu bagaimana kisah di bagian belakangnya?

Di tempat inilah cerita (di belakang panggung) bergulir.......

Senin, 17 November 2014

7 Bulan Setelah KENA GUSUR

Tujuh bulan lalu, saya kena gusur, kehilangan rumah saya yang sederhana di pinggiran Jakarta. Kepaksalah saya sekeluarga jadi makhluk nomaden; numpang idup di rumah mertua. Kalau saya sama istri sih udah uzur, udah sadar sama realita. Tapi si sulung (4 th) masih suka dihajar rindu.

"Pengen pulang ke Rumah Biru," katanya, nyebutin panggilan sayang (eks)-rumahnya.
"Pengin ngaji sama Bunda Ngaji."
"Pengin main sama Fifah, sama Qila, sama Afif."

Nyesek rasanya liat dia kangen gitu.
Si Sulung kangen Rumah Biru
Tapi.... berhubung kami kena gusur dalam tanda petik, alias atas keinginan kami sendiri, sebenernya nggak terlalu nyesek..... Rumah itu dijual atas kesadaran penuh bahwa saya pindah kerja ke Cirebon, kampung halaman istri. Kami bosan idup di Jakarta. Berhubung takut uang hasil penjualan cepet habis, buru-burulah kami beli rumah baru di kawasan Ciperna, pinggiran kota Cirebon.

Kalau dipikir-pikir, kok kami seneng banget ya tinggal di pinggiran? Biarin lah, biar nggak terlalu sumpek liat keramaian.

Maka inilah, rumah baru kami. Si Sulung menyebutnya Rumah Merah.
Si Rumah Merah
Menurut saya kiyut, tapi adaaa aja yang nganggap aneh.

"Kok ada ya, yang suka warna merah-putih? Seneng timnas ya? Nasionalis banget..." kata tukang konblok.
"Nggak juga. Mas Bos kan seneng Manchester United," kata tukang kayu.

Padahal saya penggemar Chelsea.
Para tukang yang berdedikasi.
Mereka berubah  jadi "Cheerleaders Pemasang Lampu", pas tangga lagi dipake.
Thanks, Bros!!
Masih mending dianggap Nasionalis. Mertua malah nyangka saya kader partai gara-gara warna merah itu. Boro-boro jadi kader, jadi simpatisan partai mana pun saya males :)
Rumah baru ini agak lebih besar dan luas dibanding rumah  lama. Tapi harga belinya sama, karena harga pinggiran Jakarta pasti lebih mahal daripada pinggiran Cirebon :)

Tapi harga bukan bahasan penting, tokh rumah saya tetaplah sederhana. Kenikmatannya ada pada saya yang boleh mendesain sendiri si Merah. Beda dengan si Biru yang sudah dibangun dulu developer. Dari mulai bikin denah, nentuin semen, nentuin cat, sampai kabel listrik, saya terlibat langsung. Nggak mesti pakai merek mahal, yang penting berkualitas--terutama kabel listrik yang terkait keselamatan nyawa.


So, Thank God, akhirnya kami punya tempat bernaung lagi.

Nah, kalau kalian ada di Cirebon atau lewat tol Cirebon, silahkan mampir. Rumah saya cuma sepelemparan sendal dari tol Palikanci. Saya pasti menyambut dengan senang hati :D