Halaman

Setiap kejadian punya kisah lain di belakangnya. Ibarat panggung pertunjukan, situasi di depan dan belakang sama riuhnya. Situasi di depan, orang banyak yang tahu. Lalu bagaimana kisah di bagian belakangnya?

Di tempat inilah cerita (di belakang panggung) bergulir.......

Rabu, 27 Juni 2012

Debt Collector: Bete!



Kerjaan debt collector itu gagah. Orang pada takut padanya, terutama pihak yang berhutang, tentu. Saban jatuh tenggat dan pintu pagar diketuk orang, bawaannya sudah kalap mulu, berasa sedang disambangi malaikat maut!
Kerjaan debt collector itu bikin males. Hasrat hati mau melaksanakan
perintah bos, apa daya setiap ketemu orang, mereka buang muka. Benci melihat kita!
Kerjaan debt collector itu susah susah gampang. Mesti punya teknik komunikasi yang mumpuni sekaligus banyak akal buat ngakalin penghutang agar mau bayar hutangnya tanpa kendala.
http://images.clipartof.com/small/440875-Royalty-Free-RF-Clip-Art-Illustration-Of-A-Cartoon-Bill-Collector-Carrying-A-Violin-Case.jpg 

Ada banyak teknik komunikasi debt collector sebenernya:

1. Cara garang.
“Hoi! Bayar hutang lu! Kalau nggak, gue gorok leher lu sekarang juga, atau gue perawanin anak perempuan lu satu-satunya itu!!” Sambil nunjukin tato di lengan yang segede gaban, ngacungin golok, dan melototi anak SD dengan tatapan pedofilia.

2. Cara persuasif.
“Saya sih nggak masalah lho, Bu, situ nggak bayar. Tapi saya kasihan sama situ. Saya orangnya peduli. Makanya saya tahu, tiap mengundur, tunggakan Ibu makin membengkak. Ibu nggak mau makin susah nantinya, kan? Lebih baik dibayar sekarang ya, Bu. Kasihan si Buyung, kalau uang jajannya disunat bulan depan….” Sambil duduk manis di sofa dan menatap si penghutang dengan tatapan penuh simpati ala Rose Mini (padahal tatonya tetep nyeremin).

3. Cara gabungan dua teknik di atas.
“Hayo…..mau kabur yaaaa? Iiih, si Bapak. Bikin akika gemes deh booooooo! Kalau nggak ketemu situ, akika kan jadi repooooot. Akika nggak bisa melepas kangen…sama duit bapak…” Ngucapin dengan gaya bencong mesra, tapi sambil ngasah golok!

Well, apa pun itu, yang jelas kerjaan debt collector itu ngebetein! Jelas, ngebetein si penghutang. Tapi kadang ngebetein orang yang berprofesi sebagai debt collectornya.


Setidaknya menurut versi ponakanku. ^_^
Doi pernah jadi debt collector sebuah perusahaan finance. Berhubung dia nggak punya tato dan nggak punya badan bongsor, serta cenderung berpakaian formal nan rapi, doi lebih suka pakai teknik kedua. Yang persuasif, yang simpatik. Tapi susah jadinya kalau yang dihadapin adalah ibu-ibu jadul yang masih menerapkan adat sopan santun/basa-basi ketimuran dan berdialek sangat membuat nyaman (maksudnya nggak kedengeran kayak orang ngebentak ataupun protes—biasanya orang Sunda Priangan atau Jawa Ngoko), dan selalu hangat nerima tamunya walaupun si tamu debt collector. Kali ini, yang dihadapi ponakan adalah orang Sunda Priangan.

“Ibu, hutang Ibu sudah jatuh tempo lho.”
Muhun (iya).” Tersenyum santun.
“Mau dibayar?”
Muhun.”
“Sekarang?”
“Besok.”
Bete.

Keesokannya.
“Ibu, sesuai janji saya datang lagi.”
Muhun.” Tetap senyum.
“Duitnya sudah ada?”
Muhun.”
“Bisa bayar sekarang?”
“Duitnya dibawa Bapak. Besok aja ya?”
Bete!

Keesokannya.
“Ibu, kalau begini terus saya susah lho. Saya nggak bisa terus-terusan kemari.”
Muhun.”
“Saya harus keliling ke tempat lain.”
Muhun.”
“Saya juga punya atasan. Kalau uangnya nggak saya dapat sekarang, saya kena damprat. Ibu ngerti kesusahan saya?”
Muhun.”
“Jadi Ibu bisa bayar?”
“Bisa.”
“Bagus. Bisa saya terima duitnya?”
“Wah, kebetulan duit yang dipegang Bapak kemarin sudah habis. Bulan depan aja ya?”
“AAAAARRRGH!!!”

Pada akhirnya, ponakanku itu pensiun dini jadi debt collector, lalu beralih wirausaha sendiri. yang kecil-kecilan, tapi nggak perlu ngurusin hutang orang lain, dan menjadi majikan untuk diri sendiri ^_^

Si cantik yang dikejar-kejar mulu oleh debt collector di film Confession of a Sophaholic
http://improveranking.googlepages.com/confessions.jpg
Tapi sebenarnya ada satu teknik lagi nih yang bisa diterapkan debt collector.

4. Cara Sabar
Cara ini gue dapat dari teman kuliah gue yang sekarang banting stir jadi debt collector. Tiap datang ke penghutang, dia selalu dapat jawaban nggak pasti.

Pertama datang :
"Bayarnya besok aja ya, Pak."
Temanku beneran datang besok.

Kedua datang :
"Tiga hari lagi deh, Pak."
Temenku beneran datang tiga hari lagi.

Begitu seterusnya sampai si penghutang bete sendiri.
"Pak, jangan datang mulu dong. Saya jadi malu (nggak bisa nepatin janji mulu)," kata penghutang akhirnya.
Sambil becanda, temenku jawab, "Sama, Pak. Saya juga malu ke sini mulu. Makanya, bayar hutangnya dong...."

Nah, pemirsa. Jadi masih banyak cara buat nagih hutang kecuali cara kekerasan! Sepakat? ^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar