Halaman

Setiap kejadian punya kisah lain di belakangnya. Ibarat panggung pertunjukan, situasi di depan dan belakang sama riuhnya. Situasi di depan, orang banyak yang tahu. Lalu bagaimana kisah di bagian belakangnya?

Di tempat inilah cerita (di belakang panggung) bergulir.......

Senin, 12 November 2012

[Andai Jadi Ketua KPK] TAKUT ADALAH KAYU BAKARKU

Menjabat ketua KPK bukanlah prestasi. Aku tidak akan bangga karenanya. Aku justru bersedih. Sekujur tubuhku menggigil karena rasa takut. Sebab aku tahu sangat pasti, tidak selalu kemiskinan yang mendekatkan orang pada kekufuran, tapi juga KEKUASAAN.

Lihatlah! Orang-orang yang berani melakukan
korupsi sangat dekat kekuasaan. Tidak selalu berupa jabatan atau gelar masyhur, tetapi juga berupa harta yang melimpah yang dipakai untuk memuluskan kepentingan pribadinya saja. Dan aku takut.... orang-orang kuasa seperti itu.

Merekalah orang-orang yang berani melawan hukum. Mereka juga orang-orang yang berani melawan orang-orang yang berusaha menegakkan hukum! Beragam cara akan mereka lakukan untuk menjegal tegaknya keadilan yang tak pandang bulu. Dan aku takut.... orang-orang seperti itu.

Tapi rasa takut adalah manusiawi. Allah menghadiahkannya sebagai alarm bagiku. Bukan untuk bersembunyi dan mencari selamat sendiri. Tetapi untuk berhati-hati dalam mengambil langkah-langkahku. Lagi pula rasa takut mengajarkan bahwa kita harus menyandarkan diri pada pemilik keberanian sejati : Allah SWT. Jika niat kita benar, bantuan Allah pasti selalu tersedia dalam berbagai wujud dan cara.

Dan manusia tidak semuanya buta. Aku akan menggandeng semua unsur masyarakat yang memiliki tekad  memberantas korupsi sepertiku. Aku gandeng penguasa-penguasa yang masih memiliki hati sebagai mitra pemberantas korupsiku, juga sebagai pencipta kebijakan yang mendukung program-program anti-korupsiku. Aku ajak masyarakat luas untuk mendukung program-programku "jihad"-ku. Dan terutama aku bina kader-kader anti korupsi dari berbagai tingkatan.

Di tingkat sekolah, aku sisipkan program pendidikan anti korupsi dengan mengedepankan rasa takut. Di tingkat profesional, aku pun bina kader-kader penyidik sendiri yang tidak tergantung pada instansi lain (yang mungkin sewaktu-waktu akan menjadi penentang utama misi anti-korupsi itu). Dan sekali lagi akan kukedepankan semangat untuk takut. Takut dalam melaksanakan perbuatan tercela. Takut saat tidak melaksanakan perbuatan terpuji. Takut untuk melihat negeri ini kadung hancur oleh tikus-tikus laknat itu akibat kemalasanku!

Lebih dari pada itu, aku pun menyadari bahwa tikus-tikus laknat itu pastilah pula memiliki rasa takut! Mereka mungkin besar, hebat, kuat, dan perkasa. Mereka laksana T-Rex yang mampu menghancurkan seluruh habitat dinosaurus. Tapi satu T-Rex perkasa kalah oleh ratusan bahkan jutaan Raptor yang gigih melawannya. Kitalah raptor-raptor itu. Yang beralamatkan dari Sabang sampai Merauke. Yang melawan kejahatan terorganisir sang T-Rex dengan kebaikan yang juga terorganisir!

Percayalah. Kejahatan terorganisir selalu kalah oleh kebaikan yang terorganisir. Sesungguhnya Allah selalu bersama orang-orang yang menyeru pada kebaikan!!

Dan rasa takut menjadi kayu bakar kita untuk mewujudkan Indonesia tanpa korupsi!

Diikutkan pada lomba blog KPK : Andai Aku Menjadi Ketua KPK

2 komentar:

  1. Balasan
    1. Siap, Pak! Saya siap sedia menjadi salah satu raptor itu! ^_^

      Hapus